Sabtu, 14 Maret 2015

PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH DAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Oleh: Dr. Hartono, M.Si.

A. Pengertian Karya Tulis Ilmiah
         Karya tulis ilmiah adalah produk pemikiran seseorang (mahasiswa, guru, dosen, pakar/ilmuwan) pada bidang tertentu, yang disusun dalam bentuk tertulis dengan menggunakan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah. Bidang tertentu di sini adalah bidang kajian, seperti pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, biologi, sastra, seni, dan sebagainya. Karya tulis ilmiah sangat dibutuhkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dalam era globalisasi saat ini dan mendatang, peranan karya tulis ilmiah sangat dibutuhkan dalam  memformulasikan dan mengembangkan teori-teori yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
         Khusus bagi guru sebagai pendidik profesional, kemanfaatan menulis karya tulis ilmiah yang bermutu sangat membantu profesi guru dalam meningkatkan kinerja guru dalam rangka memujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yaitu: mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi anggota masyarakat yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3 UURI Nomor 20 Tahun 2003).

B. Ragam Karya Tulis Ilmiah  
         Ragam karya tulis ilmiah bermacam-macam, mencakup: (1) skripsi, (2) tesis, (3) disertasi, (4) makalah, (5) artikel, dan (6) buku referensi. Skripsi adalah karya ilmiah hasil penelitian yang disusun mahasiswa program S-1 (program sarjana) dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya. Tesis merupakan karya ilmiah hasil penelitian yang disusun mahasiswa program  S-2 (program magister) dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya. Disertasi  merupakan karya ilmiah hasil penelitian yang disusun mahasiswa program S-3 (program doktor) dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya. Makalah adalah suatu karya ilmiah yang disusun seseorang sebagai hasil paparan kajiannya dalam bidang tertentu. Artikel adalah salah satu bentuk karya ilmiah yang disusun seseorang dalam bidang tertentu berdasarkan kajian literatur dan atau hasil penelitian. Buku referensi adalah karya ilmiah dalam bentuk buku, yang disusun berdasarkan hasil kajian literatur dan atau hasil penelitian. Semua bentuk karya ilmiah di atas, sangat berguna dan bermanfaat bagi mahasiswa dan penyandang profesi/praktisi seperti guru, akademisi/dosen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.     

C. Kriteria Karya Tulis Ilmiah Yang Baik        
         Suatu karya tulis ilmiah lazimnya memenuhi penulisan karya ilmiah yang baik, berdasarkan kedalaman kajian/isi, tata cara penulisan, dan penggunaan kaidah bahasa yang baik dan benar. Kedalaman kajian/isi merupakan kualitas yang didasarkan pada isi/bidang kajian yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta untuk mendukung praktik di lapangan bagi para praktisi seperti guru atau guru Bimbingan dan Konseling (BK)/konselor sekolah. Di samping, kedalaman kajian/isi, suatu karya tulis ilmiah harus ditulis dengan menggunakan tata cara penulisan serta kaidah bahasa yang baik dan benar. Sebagai contoh: karya tulis ilmiah guru BK/konselor sekolah, dapat dinyatakan sebagai karya tulis ilmiah yang baik, bila dilihat dari aspek isi, mengkaji suatu bidang/disiplin ilmu secara cermat dan logis, berdasarkan pola pikir induktif atau deduktif, menggunakan tata cara penulisan yang lazim serta kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karya tulis ilmiah tersebut, bisa berupa skripsi, tesis, disertasi, makalah, artikel, buku referensi, atau pun laporan hasil penelitian seperti PTK (penelitian tindakan kelas).

D. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1.  Pengertian
         Penelitian tindakan kelas (classroom action research) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, guru kelas, guru praktik, dan guru pembimbing/guru bimbingan dan konseling/konselor di sekolah. Guru mata pelajaran adalah guru pengampu mata pelajaran sesuai dengan bidang keahliannya, guru kelas adalah guru pengampu beberapa mata pelajaran, guru praktik adalah guru pengampu mata pelajaran praktik di laboratorium, di lapangan, atau di bengkel, sedangkan guru pembimbing/guru bimbingan dan konseling adalah guru pengampu pelayanan bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling yang bisa dijadikan tindakan (action) adalah pelayanan yang bersifat kelompok seperti pelayanan informasi, pelayanan orientasi, pelayanan penyaluran dan penempatan, pelayanan bimbingan kelompok, pelayanan konseling kelompok, bukan pelayanan yang bersifat individual seperti pelayanan konseling individual maupun pelayanan konsultasi. Hal ini didasarkan alasan bahwa tindakan dalam PTK harus dilaksanakan di dalam ruangan kelas atau sejenisnya. Sedangkan pembelajaran yang dijadikan tindakan (action) adalah model, strategi, metoda, media, dan sistem evaluasi pembelajaran.
         Action research pada hakikatnya merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan secara bersiklus (berdaur-ulang), dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Kita menggunakan istilah action research yang juga disebut practitioner research, teacher research, dan counselor research (Gall, Gall, and Borg, 2003).
         Action research berbeda dengan penelitian formal (formal research)  yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasikan. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimiliki peneliti.
         Perbedaan antara penelitian formal dengan PTK disajikan dalam tabel 1.  
Tabel 1: Perbedaan antara Penelitian Formal dengan PTK
Penelitian Formal
PTK
Dilakukan oleh orang lain
Dilakukan oleh guru
Sampel harus representatif
Sampelnya para siswa  yang
diberikan action berupa pembelajaran /
pelayanan BK
Lebih luas dan menggunakan sumber
utama
Lebih sepintas lalu dan
menggunakan sumber skunder
Menuntut penggunaan analisis
statistika yang rumit
Tidak diperlukan analisis statistika
yang rumit
Rancangan penelitian lebih ketat dan
cenderung menggunakan waktu yang
panjang
Menggunakan prosedur yang
luwes yang mengalami perubahan
selama penelitian
Mengembangkan teori
Memperbaiki praktik pembelajaran /
pelayanan BK secara langsung

2.  Siklus PTK
         Kurt Lewin disebut orang pertama yang memperkenalkan action research. Dalam bidang pembelajaran, tindakan pembelajaran sebagai action-nya, sedangkan dalam bidang bimbingan dan konseling, pelayanan bimbingan dan konseling sebagai action-nya. Konsep pokok PTK merujuk dari action research Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus.
 Perencanaan merupakan perangkat rencana tindakan (action) yang akan dilakukan berupa kegiatan pembelajaran bagi guru mata pelajaran, guru kelas, guru praktik, dan pelayanan bimbingan dan konseling yang bersifat klasikal bagi guru pembimbing (konselor sekolah). Perangkat rencana tindakan ini berupa prosedur konkrit kegiatan pembelajaran dan pelayanan bimbingan dan konseling. Contoh tindakan pembelajaran adalah  (1) penerapan strategi pembelajaran berbasis TI, (2) penggunaan metode pembelajaran bervariasi, (3) penggunaan media audio visual, (4) penerapan pembelajaran yang mendidik, dan sejenisnya. Contoh tindakan pelayanan bimbingan dan konseling yaitu (1) penerapan teori gestalt dalam konseling kelompok, (2) penerapan teori behavioristik dalam konseling kelompok, (3) pelayanan informasi, (4) pelayanan bimbingan kelompok dengan menggunakan variasi teknik dan sebagainya.  
         Tindakan berupa kegiatan melaksanakan secara cermat dari perangkat rencana tindakan yang telah disusun. Pengamatan adalah kegiatan mengukur variabel terikat yang dipengaruhi oleh tindakan yang telah dilaksanakan. Sebagai contoh pertama: variabel terikatnya adalah kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS. Maka peneliti setelah melakukan tindakan, selanjutnya mengukur variabel kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS dengan menggunakan alat ukur yang valid dan reliabel seperti skala pengukuran (SP) kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS. Di samping itu, pengamatan juga termasuk kegiatan untuk melakukan perekaman secara teliti terhadap pelaksanaan tindakan (action). Contoh kedua, variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa diukur dengan menggunakan metoda tes hasil belajar yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran, guru kelas, atau guru praktik berdasarkan prosedur content validity (validitas isi), melalui langkah-langkah: (1) identifikasi variabel terikat, (2) mendefinisikan variabel terikat  secara operasional, (3) mengembangkan kisi-kisi (blue-print), (4) menyusun item tes, (5) melakukan telaah ahli, (6) melakukan try-out (uji coba), dan (7) menghitung koefisien validitas item dengan cara mengkorelasikan antara skor butir (item) dengan skor total, dan melakukan revisi (perbaikan) butir yang tidak valid, sampai diperoleh butir tes yang valid (sahih).  Setelah itu, dilakukan uji reliabilitas, bisa dengan cara retes atau belah-dua (dipilih salah satu), atau menggunakan bantuan program atatistika SPSS for Windows (di sana banyak pilihan model reliabilitas) seperti teknik KR-20 (Kuder-Richardson formula-20) terutama disediakan untuk menguji reliabilitas butir-butir tes,  teknik Alpha dari Cronbach yang digunakan untuk menguji reliabilitas skala pengukuran (SP), teknik Hoyt digunakan untuk menguji reliabilitas tes maupun skala pengukuran.
         Refleksi adalah upaya untuk menemukan dan mengungkapkan berbagai kekurangan serta menunjukkan hasil yang diperoleh atas pelaksanaan tindakan (action). Dalam PTK, kegiatan refleksi difokuskan untuk menyempurnakan dan mengembangkan suatu perencanaan (planning) pada siklus berikutnya. Dengan demikian, rencana dan tindakan pada siklus berikutnya akan menjadi lebih baik daripada rencana dan tindakan siklus sebelumnya.

3.    Masalah PTK
         Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah PTK.
a.      Banyaknya masalah yang dihadapi guru mata pelajaran, guru kelas, dan guru praktik
         Setiap hari guru dapat menghadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk PTK sungguh ironis. Merenunglah sejenak, atau diskusi dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.
b.     Lima kelompok masalah BK
         Masalah siswa dalam lingkup Bimbingan dan Konseling dapat digolongkan ke dalam lima kategori, yaitu (a) masalah pribadi, (b) masalah sosial, (c) masalah belajar, (d) masalah karier, dan (e) masalah pengembangan budi perkerti. Masalah pribadi merupakan berbagai masalah pribadi konseli (siswa), masalah sosial merupakan kesulitan konseli (siswa) dalam kaitannya dengan hubungan antar pribadi atau dengan individu lain, baik teman sejawat atau guru/staf sekolah. Masalah belajar merupakan kesulitan-kesulitan yang dialami konseli (siswa) dalam hal belajar, masalah karier mencakup berbagai kesulitan yang terkait dengan pilihan karier (career choice), sedangkan masalah pengembangan budi pekerti terkait dengan kesulitan-kesulitan siswa dalam mengelola perilakunya sesuai tata tertib di sekolah maupun berbagai norma yang ada.
c.      Masalah yang terlalu besar
         Stres dan depresi berat merupakan masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan melalui PTK bimbingan dan konseling. Faktor yang mempengaruhi stres dan depresi berat sangat kompleks mencakup seluruh aspek kehidupan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk Anda pecahkan, misalnya: masalah kecemasan belajar, stres belajar dan depresi ringan, masalah ketergantungan (kemandirian konseli/siswa amat rendah), masalah konflik, masalah kesulitan memilih karier dan pendidikan karier, masalah motivasi belajar; minat belajar; perhatian belajar masih mungkin dipecahkan melalui PTK bimbingan dan konseling.
d.     Masalah yang terlalu kecil
         Masalah yang terlalu kecil yang dipengaruhi oleh tindakan pembelajaran atau tindakan pelayanan bimbingan dan konseling, jumlah konseli (siswa) yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat lambatnya kemajuan dua orang siswa dalam pengembangan diri, misalnya termasuk masalah kecil, karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar konseli (siswa). Fokuskan penelitian PTK  Anda untuk menangani masalah sebagian besar siswa yang mendapatkan prioritas untuk segera dipecahkan.
e.      Masalah yang cukup besar dan strategis
         Masalah rendahnya penguasaan kompetensi belajar merupakan masalah strategis dalam ranah pembelajaran. Idealnya dalam belajar, para siswa mampu menguasai kompetensi yang ditargetkan. Bila penguasaan kompetensi siswa dapat  dinyatakan dalam skor hasil belajar siswa (prestasi belajar siswa), maka menurunnya prestasi belajar siswa merupakan masalah yang strategis. Kesulitan siswa dalam memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang cukup besar dan strategis dalam bidang bimbingan belajar. Semua konseli (siswa) memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar konseli (siswa) cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar) merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas. Temukan masalah-masalah siswa yang bila ditangani akan membawa kemanfaatan yang lebih luas.

4.     Identifikasi, pemilihan, deskripsi, dan perumusan masalah   
a.   Identifikasi masalah
         Dalam mengidentifikasi masalah siswa, Anda sebaiknya menuliskan semua masalah yang Anda rasakan selama ini.
b.   Pemilihan masalah
         Anda tidak mungkin memecahkan semua masalah yang teridentifikasi secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala luas. Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain. Untuk dapat memilih masalah secara tepat Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria: tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut.


c.   Deskripsi masalah
         Setelah Anda memilih salah satu masalah, deskripsikan masalah itu serinci mungkin, untuk memberi gambaran tentang pentingnya masalah itu perlu dipecahkan ditinjau dari ranah pembelajaran atau ranah bimbingan dan konseling.  
d.   Rumusan masalah
         Setelah Anda memilih satu masalah secara seksama, selanjutnya Anda perlu merumuskan masalah itu secara komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan masalah action research menggunakan lima pertanyaan:
     a. Siapa yang terkena dampak negatifnya?
     b). Siapa atau apa yang diprakirakan sebagai penyebab masalah
           itu?
     c). Masalah apa sebenarnya itu?
     d). Siapa yang menjadi tujuan perbaikan?
           e). Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu?
           Contoh merumuskan masalah PTK sebagai berikut:
a.)   Apakah keterampilan kerja sama (kolaborasi) siswa SMP X Surabaya dapat ditingkatkan melalui konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan behavioral?
b.)   Apakah konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan Gestalt dapat meningkatkan keterampilan kolaboratif siswa?
c.)   Apakah kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS secara signifikan dapat direduksi melalui pelayanan konseling kelompok  Cognitive Behavior Therapy (CBT)? 
d). Apakah  prestasi  belajar  siswa  mata pelajaran matematika dapat  ditingkatkan  secara signifikan melalui pembelajaran kolaboratif?
e). Apakah prestasi belajar siswa mata pelajaran PPKn dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penerapan pembelajaran yang mendidik?
f).  Apakah prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia secara signifikan dapat ditingkatkan melalui pembelajaran berbasis  TI?  dst.



5.    Kajian teori dan hipotesis tindakan
a.    Kajian teori
         Dalam membuat rumusan masalah di atas sebenarnya Anda telah melakukan “analisis penyebab masalah” sekaligus membuat “hipotesis tindakan” yang akan diberikan untuk memecahkan masalah tersebut. Untuk melakukan analisis secara tajam dan menjustifikasi perlakuan yang akan diberikan, Anda perlu merujuk pada teori-teori yang sudah ada dan atau hasil-hasil penelitian yang terkait dengan topik penelitian. Tujuannya sekedar meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Dalam hal ini proses kolaborasi memegang peranan yang sangat penting.
         Anda perlu membaca hasil penelitian terakhir, siapa tahu apa yang akan Anda lakukan sudah pernah dilakukan oleh orang lain; Anda dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang itu. Manfaat lain yang lebih penting, Anda akan mengetahui tren-tren baru yang sedang diperhatikan atau diteliti oleh para guru mata pelajaran, guru kelas, guru praktik, dan guru pembimbing (konselor sekolah). Dalam ranah konseling, saat ini  sedang ngetren berbagai pendekatan konseling—cognitive behavior therapy; pendekatan integration, pendekatan eclective, pendekatan post-modern, pendekatan terapi keluarga (Corey, 2005), sedangkan dalam ranah pembelajaran juga terdapat isu-isu penting seperti: pembelajaran kolaboratif, pembelajaran inovatif dan kreatif, pembelajaran berbasis IT, dst. Semua itu menarik diteliti.

b.    Hipotesis tindakan
         Lakukanlah analisis penyebab masalah secara seksama agar tindakan yang Anda rencanakan berjalan dengan efektif. Hipotesis tindakan dapat Anda tuliskan secara eksplisit, tetapi dapat juga tidak karena pada dasarnya Anda belum tahu tindakan mana yang akan berdampak paling efektif.

6.  Metodologi
a.   Setting Penelitian
         Setting penelitian perlu Anda uraikan secara rinci karena penting artinya bagi guru lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Mereka tentu akan mempertimbangkan masak-masak apakah ada kemiripan antara setting sekolahnya dengan hasil penelitian PTK Anda.
b.  Tahap Perencanaan
         Tahap perencanaan sebaiknya hanya menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan PTK. Uraian prosedur kegiatan sangat penting untuk ditampilkan.
c.   Siklus
         Dalam PTK siklus merupakan ciri khas yang membedakannya dengan penelitian jenis lain; oleh karena itu siklus harus dilaksanakan secara benar. Siklus pada hakikatnya adalah rangkaian “riset-aksi-riset-aksi- …” yang tidak ada dalam penelitian biasa. Dalam penelitian biasa hanya terdapat satu riset dan satu aksi kemudian disimpulkan. Dalam PTK hasil yang belum baik masih ada kesempatan untuk diperbaiki lagi sampai berhasil. Siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi; dan (5) perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action reseach.
d.  Instrumen
         Instrumen merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaan PTK. Jenis instrumen harus sesuai dengan karakteristik variabel yang diamati. Triangulasi perlu diperhatikan untuk menjamin validitas data. Pengembangan instrumen pengumpulan data dilakukan melalui prosedur; (1) identifikasi variabel terikat, (2) mendefinisikan variabel terikat secara operasional, (3) mengembangkan kisi-kisi (blue-print), (4) menyusun butir instrumen, (5) melakukan telaah ahli, (6) merevisi berdasarkan hasil telaah ahli, dan (7) melakukan uji coba (try-out) untuk menemukan validitas dan reliabilitas instrumen tersebut, sehingga bisa dilakukan kompilasi hasil akhir (final).

  1. Hasil penelitian
a.   Siklus penelitian
               Hasil penelitian PTK tidak hanya berisi data hasil observasi, melainkan justru proses perbaikan yang dilakukan. Untuk itu siklus adalah cara yang tepat untuk menyajikan hasil penelitian. Data hasil observasi tidak disajikan secara terpisah melainkan dalam konteks siklus-siklus yang telah dilakukan.


b.   Tabel, diagram dan grafik
         Tabel, diagram, dan grafik sangat baik digunakan untuk menyajikan data hasil observasi. Gunanya agar refleksi dapat dilakukan lebih mudah. Sajian yang cantik itu bisa menjadi bermanfaat manakala angka angkanya diatur sedemikain rupa sehingga terkesan artificial. Hasil yang begitu spektakuler, seringkali tidak disertai dengan “bagaimana” proses untuk mencapainya, sehingga pembaca akan makin ragu.





  1. Simpulan dan saran
a.   Simpulan
         Kesimpulan tentu saja harus menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis yang telah dikemukakan. Pertanyaan penelitian, di samping menuntut jawaban yang berupa hasil, juga menuntut prosesnya. Marilah kita lihat pertanyaan pertanyaan itu sekali lagi. Salah satu karakter PTK adalah lebih memfokuskan pada tindakan (action) di samping hasilnya.
b.  Saran
         Karena PTK bersifat kontekstual, pemberian saran kepada orang lain berdasarkan hasil penelitian tersebut sebenarnya kurang bermanfaat. Deskripsi konteks penelitian secara rinci sudah cukup untuk memberikan informasi bagi guru (guru mata pelajaran / guru pembimbing) lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Saran seperti “Program PTK ini perlu dilanjutkan dan diperluas untuk tahun-tahun mendatang,” juga kurang begitu perlu, bahkan kurang relevan. Saran PTK diperlukan misalnya jika temuan penelitian menyangkut sistem yang lebih luas, seperti menghendaki adanya perubahan program pembelajaran atau program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam hal itu peneliti dapat menyarankan tentang program yang ideal.

  1. Daftar pustaka
         Daftar pustaka mencerminkan penguasaan Anda atas konsep, kaidah dan teori yang Anda minati. Di samping itu, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, daftar pustaka mencerminkan keluasan pengetahuan Anda atas penelitian-penelitian terbaru yang sedang ngetren. Selama ini guru sering mencantumkan nama-nama ahli pendidikan, psikologi, dan pembelajaran tetapi tidak disertai dengan daftar pustakannya. Buatlah daftar pustaka secara cermat. Berikut ini disajikan contoh menulis daftar pustaka yang berlaku secara universal.


Contoh menulis daftar pustaka:
Bobek, B., L., et al. 2005. Training Counselors to Use Computer-Assisted Career Guidance Systems More Effectively: A Model Curriculum. The Career Development Quarterly, 53, 363-371.

Hartono dan Boy Soedarmadji. 2006. Psikologi Konseling. Surabaya: University Press Unipa Surabaya.

Hartono. 2010. Bimbingan Karier Berbantuan Komputer untuk Siswa SMA. Surabaya: University Press Unipa Surabaya.

UNDP. 2005. Statistics in the Human Development Report. http://www.hdr.undp.org,  diakses tanggal 31 Desember 2007 pukul 19.00 WIB.

Zunker, V., G. 2002. Career Counseling: Applied Concepts of Life Planning, Sixth Edition. United Kingdom: Brooks/Cole.


REFERENSI
Ary, D., Jacobs, L., C., Razavieh, A. 2002. Introduction to Research in Education, Sixth Edition. Australia: Wadsworth.

Budi Rahardjo. 2005. Panduan Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah: Tesis, Tugas Akhir dan Makalah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Corey, G. 2005. Theory and Practice of Counseling & Psychotherapy, Seventh Edition. Australia: Brooks/Cole.

Gall, M., D., Gall, J., P., Borg, W., R. 2003. Educational Research. An Introduction, Seventh Edition. New York: Longman.

Thomas, R., M. 2003. Blending Qualitative and Quantitative Research Methods in Thesis and Dissertations. California: Corwin Press, Inc.


Tishman, S., Perkins, D., D., Jay, E. 1995. The Thinking Classroom. Learning and Teaching in a Culture of Thinking. Boston: Allyn and Bacon. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar