PENULISAN
KARYA TULIS ILMIAH DAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Oleh:
Dr. Hartono, M.Si.
A.
Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah produk
pemikiran seseorang (mahasiswa, guru, dosen, pakar/ilmuwan) pada bidang
tertentu, yang disusun dalam bentuk tertulis dengan menggunakan kaidah-kaidah penulisan
karya ilmiah. Bidang tertentu di sini adalah bidang kajian, seperti pendidikan,
psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, biologi, sastra, seni, dan
sebagainya. Karya tulis ilmiah sangat dibutuhkan untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni. Dalam era globalisasi saat ini dan mendatang,
peranan karya tulis ilmiah sangat dibutuhkan dalam memformulasikan dan mengembangkan teori-teori
yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Khusus bagi guru sebagai pendidik
profesional, kemanfaatan menulis karya tulis ilmiah yang bermutu sangat
membantu profesi guru dalam meningkatkan kinerja guru dalam rangka memujudkan
tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang RI Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yaitu:
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi anggota masyarakat yang demokratis serta
bertanggung jawab (pasal 3 UURI Nomor 20 Tahun 2003).
B.
Ragam Karya Tulis Ilmiah
Ragam karya tulis ilmiah
bermacam-macam, mencakup: (1) skripsi, (2) tesis, (3) disertasi, (4) makalah,
(5) artikel, dan (6) buku referensi. Skripsi
adalah karya ilmiah hasil penelitian yang disusun mahasiswa program S-1 (program
sarjana) dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya.
Tesis merupakan karya ilmiah hasil
penelitian yang disusun mahasiswa program S-2 (program magister) dalam rangka memenuhi
salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya. Disertasi merupakan karya
ilmiah hasil penelitian yang disusun mahasiswa program S-3 (program doktor)
dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studinya. Makalah
adalah suatu karya ilmiah yang disusun seseorang sebagai hasil paparan
kajiannya dalam bidang tertentu. Artikel
adalah salah satu bentuk karya ilmiah yang disusun seseorang dalam bidang
tertentu berdasarkan kajian literatur dan atau hasil penelitian. Buku referensi adalah karya ilmiah
dalam bentuk buku, yang disusun berdasarkan hasil kajian literatur dan atau hasil
penelitian. Semua bentuk karya ilmiah di atas, sangat berguna dan bermanfaat bagi
mahasiswa dan penyandang profesi/praktisi seperti guru, akademisi/dosen dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
C. Kriteria
Karya Tulis Ilmiah Yang Baik
Suatu karya tulis ilmiah lazimnya
memenuhi penulisan karya ilmiah yang baik, berdasarkan kedalaman kajian/isi,
tata cara penulisan, dan penggunaan kaidah bahasa yang baik dan benar. Kedalaman
kajian/isi merupakan kualitas yang didasarkan pada isi/bidang kajian yang
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta untuk
mendukung praktik di lapangan bagi para praktisi seperti guru atau guru
Bimbingan dan Konseling (BK)/konselor sekolah. Di samping, kedalaman
kajian/isi, suatu karya tulis ilmiah harus ditulis dengan menggunakan tata cara
penulisan serta kaidah bahasa yang baik dan benar. Sebagai contoh: karya tulis ilmiah
guru BK/konselor sekolah, dapat dinyatakan sebagai karya tulis ilmiah yang
baik, bila dilihat dari aspek isi, mengkaji suatu bidang/disiplin ilmu secara
cermat dan logis, berdasarkan pola pikir induktif atau deduktif, menggunakan
tata cara penulisan yang lazim serta kaidah bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Karya tulis ilmiah tersebut, bisa berupa skripsi, tesis, disertasi, makalah,
artikel, buku referensi, atau pun laporan hasil penelitian seperti PTK
(penelitian tindakan kelas).
D.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1. Pengertian
Penelitian tindakan kelas (classroom action research) adalah action research yang dilaksanakan oleh
guru mata pelajaran, guru kelas, guru praktik, dan guru pembimbing/guru
bimbingan dan konseling/konselor di sekolah. Guru mata pelajaran adalah guru
pengampu mata pelajaran sesuai dengan bidang keahliannya, guru kelas adalah
guru pengampu beberapa mata pelajaran, guru praktik adalah guru pengampu mata
pelajaran praktik di laboratorium, di lapangan, atau di bengkel, sedangkan guru
pembimbing/guru bimbingan dan konseling adalah guru pengampu pelayanan
bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling yang bisa dijadikan
tindakan (action) adalah pelayanan
yang bersifat kelompok seperti pelayanan informasi, pelayanan orientasi,
pelayanan penyaluran dan penempatan, pelayanan bimbingan kelompok, pelayanan
konseling kelompok, bukan pelayanan yang bersifat individual seperti pelayanan
konseling individual maupun pelayanan konsultasi. Hal ini didasarkan alasan
bahwa tindakan dalam PTK harus dilaksanakan di dalam ruangan kelas atau
sejenisnya. Sedangkan pembelajaran yang dijadikan tindakan (action) adalah model, strategi, metoda, media, dan sistem evaluasi
pembelajaran.
Action
research pada hakikatnya merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan
secara bersiklus (berdaur-ulang), dalam rangka memecahkan masalah, sampai
masalah itu terpecahkan. Kita menggunakan istilah action research yang juga disebut practitioner research, teacher
research, dan counselor research
(Gall, Gall, and Borg, 2003).
Action research berbeda dengan penelitian formal (formal research) yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan
membangun teori yang bersifat umum (general).
Action research lebih bertujuan untuk
memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk
digeneralisasikan. Namun demikian hasil action
research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang
mirip dengan yang dimiliki peneliti.
Perbedaan antara penelitian formal
dengan PTK disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1: Perbedaan antara Penelitian
Formal dengan PTK
|
Penelitian Formal
|
PTK
|
|
Dilakukan oleh orang lain
|
Dilakukan oleh guru
|
|
Sampel harus representatif
|
Sampelnya para siswa
yang
diberikan action berupa pembelajaran /
pelayanan BK
|
|
Lebih luas dan menggunakan sumber
utama
|
Lebih sepintas lalu dan
menggunakan sumber skunder
|
|
Menuntut penggunaan analisis
statistika yang rumit
|
Tidak diperlukan analisis statistika
yang rumit
|
|
Rancangan penelitian lebih ketat dan
cenderung menggunakan waktu yang
panjang
|
Menggunakan prosedur yang
luwes yang mengalami perubahan
selama penelitian
|
|
Mengembangkan teori
|
Memperbaiki praktik pembelajaran /
pelayanan BK secara langsung
|
2. Siklus
PTK
Kurt Lewin disebut orang pertama yang
memperkenalkan action research. Dalam
bidang pembelajaran, tindakan pembelajaran sebagai action-nya, sedangkan dalam
bidang bimbingan dan konseling, pelayanan bimbingan dan konseling sebagai action-nya. Konsep pokok PTK merujuk
dari action research Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu: (1)
perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen
itu dipandang sebagai satu siklus.
Perencanaan merupakan perangkat rencana
tindakan (action) yang akan dilakukan
berupa kegiatan pembelajaran bagi guru mata pelajaran, guru kelas, guru
praktik, dan pelayanan bimbingan dan konseling yang bersifat klasikal bagi guru
pembimbing (konselor sekolah). Perangkat rencana tindakan ini berupa prosedur
konkrit kegiatan pembelajaran dan pelayanan bimbingan dan konseling. Contoh
tindakan pembelajaran adalah (1)
penerapan strategi pembelajaran berbasis TI, (2) penggunaan metode pembelajaran
bervariasi, (3) penggunaan media audio visual, (4) penerapan pembelajaran yang
mendidik, dan sejenisnya. Contoh tindakan pelayanan bimbingan dan konseling
yaitu (1) penerapan teori gestalt dalam konseling kelompok, (2) penerapan teori
behavioristik dalam konseling kelompok, (3) pelayanan informasi, (4) pelayanan
bimbingan kelompok dengan menggunakan variasi teknik dan sebagainya.
Tindakan berupa kegiatan melaksanakan
secara cermat dari perangkat rencana tindakan yang telah disusun. Pengamatan
adalah kegiatan mengukur variabel terikat yang dipengaruhi oleh tindakan yang
telah dilaksanakan. Sebagai contoh
pertama: variabel terikatnya adalah kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS.
Maka peneliti setelah melakukan tindakan, selanjutnya mengukur variabel
kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS dengan menggunakan alat ukur yang valid
dan reliabel seperti skala pengukuran (SP) kecemasan siswa dalam menghadapi
UNAS. Di samping itu, pengamatan juga termasuk kegiatan untuk melakukan
perekaman secara teliti terhadap pelaksanaan tindakan (action). Contoh kedua,
variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa diukur dengan menggunakan
metoda tes hasil belajar yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran, guru
kelas, atau guru praktik berdasarkan prosedur content validity (validitas isi), melalui langkah-langkah: (1)
identifikasi variabel terikat, (2) mendefinisikan variabel terikat secara operasional, (3) mengembangkan
kisi-kisi (blue-print), (4) menyusun
item tes, (5) melakukan telaah ahli, (6) melakukan try-out (uji coba), dan (7) menghitung koefisien validitas item
dengan cara mengkorelasikan antara skor butir (item) dengan skor total, dan
melakukan revisi (perbaikan) butir yang tidak valid, sampai diperoleh butir tes yang valid (sahih). Setelah itu,
dilakukan uji reliabilitas, bisa dengan cara retes atau belah-dua (dipilih
salah satu), atau menggunakan bantuan program atatistika SPSS for Windows (di
sana banyak pilihan model reliabilitas) seperti teknik KR-20 (Kuder-Richardson
formula-20) terutama disediakan untuk menguji reliabilitas butir-butir
tes, teknik Alpha dari Cronbach yang
digunakan untuk menguji reliabilitas skala pengukuran (SP), teknik Hoyt
digunakan untuk menguji reliabilitas tes maupun skala pengukuran.
Refleksi adalah upaya untuk menemukan
dan mengungkapkan berbagai kekurangan serta menunjukkan hasil yang diperoleh
atas pelaksanaan tindakan (action).
Dalam PTK, kegiatan refleksi difokuskan untuk menyempurnakan dan mengembangkan
suatu perencanaan (planning) pada
siklus berikutnya. Dengan demikian, rencana dan tindakan pada siklus berikutnya
akan menjadi lebih baik daripada rencana dan tindakan siklus sebelumnya.
3. Masalah
PTK
Berikut ini merupakan hal-hal yang
perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah PTK.
a. Banyaknya
masalah yang dihadapi guru mata pelajaran, guru kelas, dan guru praktik
Setiap hari guru dapat menghadapi
banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena
itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk PTK sungguh ironis.
Merenunglah sejenak, atau diskusi dengan teman sejawat, Anda akan segera
menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.
b. Lima
kelompok masalah BK
Masalah siswa dalam lingkup Bimbingan
dan Konseling dapat digolongkan ke dalam lima kategori, yaitu (a) masalah
pribadi, (b) masalah sosial, (c) masalah belajar, (d) masalah karier, dan (e)
masalah pengembangan budi perkerti. Masalah pribadi merupakan berbagai masalah
pribadi konseli (siswa), masalah sosial merupakan kesulitan konseli (siswa)
dalam kaitannya dengan hubungan antar pribadi atau dengan individu lain, baik
teman sejawat atau guru/staf sekolah. Masalah belajar merupakan
kesulitan-kesulitan yang dialami konseli (siswa) dalam hal belajar, masalah
karier mencakup berbagai kesulitan yang terkait dengan pilihan karier (career choice), sedangkan masalah
pengembangan budi pekerti terkait dengan kesulitan-kesulitan siswa dalam
mengelola perilakunya sesuai tata tertib di sekolah maupun berbagai norma yang
ada.
c. Masalah
yang terlalu besar
Stres dan depresi berat merupakan
masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan melalui PTK bimbingan dan
konseling. Faktor yang mempengaruhi stres dan depresi berat sangat kompleks
mencakup seluruh aspek kehidupan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk
Anda pecahkan, misalnya: masalah kecemasan belajar, stres belajar dan depresi
ringan, masalah ketergantungan (kemandirian konseli/siswa amat rendah), masalah
konflik, masalah kesulitan memilih karier dan pendidikan karier, masalah
motivasi belajar; minat belajar; perhatian belajar masih mungkin dipecahkan
melalui PTK bimbingan dan konseling.
d. Masalah
yang terlalu kecil
Masalah yang terlalu kecil yang
dipengaruhi oleh tindakan pembelajaran atau tindakan pelayanan bimbingan dan
konseling, jumlah konseli (siswa) yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan
kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat
lambatnya kemajuan dua orang siswa dalam pengembangan diri, misalnya termasuk
masalah kecil, karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak
masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar konseli (siswa).
Fokuskan penelitian PTK Anda untuk
menangani masalah sebagian besar siswa yang mendapatkan prioritas untuk segera
dipecahkan.
e. Masalah yang cukup besar dan strategis
Masalah rendahnya penguasaan
kompetensi belajar merupakan masalah strategis dalam ranah pembelajaran.
Idealnya dalam belajar, para siswa mampu menguasai kompetensi yang ditargetkan.
Bila penguasaan kompetensi siswa dapat
dinyatakan dalam skor hasil belajar siswa (prestasi belajar siswa), maka
menurunnya prestasi belajar siswa merupakan masalah yang strategis. Kesulitan
siswa dalam memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang
cukup besar dan strategis dalam bidang bimbingan belajar. Semua konseli (siswa)
memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar konseli
(siswa) cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran,
dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar)
merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan
demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas. Temukan
masalah-masalah siswa yang bila ditangani akan membawa kemanfaatan yang lebih
luas.
4. Identifikasi, pemilihan, deskripsi, dan perumusan masalah
a. Identifikasi masalah
Dalam
mengidentifikasi masalah siswa, Anda sebaiknya menuliskan semua masalah yang
Anda rasakan selama ini.
b. Pemilihan masalah
Anda tidak mungkin memecahkan semua
masalah yang teridentifikasi secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala luas. Masalah-masalah itu berbeda
satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu
boleh jadi merupakan penyebab dari masalah yang lain sehingga pemecahan
terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain. Untuk dapat memilih masalah
secara tepat Anda perlu menyusun masalah-masalah itu berdasarkan kriteria:
tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya
Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut.
c. Deskripsi masalah
Setelah Anda memilih salah satu
masalah, deskripsikan masalah itu serinci mungkin, untuk memberi gambaran
tentang pentingnya masalah itu perlu dipecahkan ditinjau dari ranah
pembelajaran atau ranah bimbingan dan konseling.
d. Rumusan masalah
Setelah Anda memilih satu masalah
secara seksama, selanjutnya Anda perlu merumuskan masalah itu secara
komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan masalah action research menggunakan lima pertanyaan:
a. Siapa yang terkena dampak negatifnya?
b). Siapa atau apa yang diprakirakan
sebagai penyebab masalah
itu?
c). Masalah apa sebenarnya itu?
d). Siapa yang menjadi tujuan perbaikan?
e). Apa yang akan dilakukan untuk
mengatasi hal itu?
Contoh merumuskan masalah PTK
sebagai berikut:
a.)
Apakah
keterampilan kerja sama (kolaborasi) siswa SMP X Surabaya dapat ditingkatkan
melalui konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan behavioral?
b.)
Apakah konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan
Gestalt dapat meningkatkan keterampilan kolaboratif siswa?
c.)
Apakah kecemasan siswa dalam menghadapi UNAS secara
signifikan dapat direduksi melalui pelayanan konseling kelompok Cognitive
Behavior Therapy (CBT)?
d). Apakah
prestasi belajar siswa
mata pelajaran matematika dapat
ditingkatkan secara signifikan
melalui pembelajaran kolaboratif?
e). Apakah prestasi belajar siswa mata pelajaran PPKn
dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penerapan pembelajaran yang
mendidik?
f). Apakah
prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia secara signifikan dapat
ditingkatkan melalui pembelajaran berbasis
TI? dst.
5. Kajian teori dan hipotesis tindakan
a. Kajian teori
Dalam membuat rumusan masalah di atas
sebenarnya Anda telah melakukan “analisis penyebab masalah” sekaligus membuat
“hipotesis tindakan” yang akan diberikan untuk memecahkan masalah tersebut.
Untuk melakukan analisis secara tajam dan menjustifikasi perlakuan yang akan
diberikan, Anda perlu merujuk pada teori-teori yang sudah ada dan atau
hasil-hasil penelitian yang terkait dengan topik penelitian. Tujuannya sekedar
meyakinkan bahwa apa yang Anda lakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
Dalam hal ini proses kolaborasi memegang peranan yang sangat penting.
Anda
perlu membaca hasil penelitian terakhir, siapa tahu apa yang akan Anda lakukan
sudah pernah dilakukan oleh orang lain; Anda dapat mengambil manfaat dari
pengalaman orang itu. Manfaat lain yang lebih penting, Anda akan mengetahui
tren-tren baru yang sedang diperhatikan atau diteliti oleh para guru mata
pelajaran, guru kelas, guru praktik, dan guru pembimbing (konselor sekolah). Dalam
ranah konseling, saat ini sedang ngetren
berbagai pendekatan konseling—cognitive
behavior therapy; pendekatan integration,
pendekatan eclective, pendekatan post-modern, pendekatan terapi keluarga
(Corey, 2005), sedangkan dalam ranah pembelajaran juga terdapat isu-isu penting
seperti: pembelajaran kolaboratif, pembelajaran inovatif dan kreatif,
pembelajaran berbasis IT, dst. Semua itu menarik diteliti.
b. Hipotesis tindakan
Lakukanlah analisis penyebab masalah
secara seksama agar tindakan yang Anda rencanakan berjalan dengan efektif. Hipotesis
tindakan dapat Anda tuliskan secara eksplisit, tetapi dapat juga tidak karena
pada dasarnya Anda belum tahu tindakan mana yang akan berdampak paling efektif.
6. Metodologi
a. Setting Penelitian
Setting penelitian perlu Anda uraikan
secara rinci karena penting artinya bagi guru lain yang ingin meniru
keberhasilan Anda. Mereka tentu akan mempertimbangkan masak-masak apakah ada
kemiripan antara setting sekolahnya dengan hasil penelitian PTK Anda.
b. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan sebaiknya hanya
menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan PTK. Uraian prosedur kegiatan sangat
penting untuk ditampilkan.
c. Siklus
Dalam PTK siklus merupakan ciri khas
yang membedakannya dengan penelitian jenis lain; oleh karena itu siklus harus
dilaksanakan secara benar. Siklus pada hakikatnya adalah rangkaian
“riset-aksi-riset-aksi- …” yang tidak ada dalam penelitian biasa. Dalam
penelitian biasa hanya terdapat satu riset dan satu aksi kemudian disimpulkan.
Dalam PTK hasil yang belum baik masih ada kesempatan untuk diperbaiki lagi
sampai berhasil. Siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3)
pengamatan; dan (4) refleksi; dan (5) perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam
siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action reseach.
d. Instrumen
Instrumen merupakan bagian yang tidak
kalah pentingnya dalam pelaksanaan PTK. Jenis instrumen harus sesuai dengan
karakteristik variabel yang diamati. Triangulasi perlu diperhatikan untuk
menjamin validitas data. Pengembangan instrumen pengumpulan data dilakukan
melalui prosedur; (1) identifikasi variabel terikat, (2) mendefinisikan
variabel terikat secara operasional, (3) mengembangkan kisi-kisi (blue-print), (4) menyusun butir
instrumen, (5) melakukan telaah ahli, (6) merevisi berdasarkan hasil telaah
ahli, dan (7) melakukan uji coba (try-out)
untuk menemukan validitas dan reliabilitas instrumen tersebut, sehingga bisa
dilakukan kompilasi hasil akhir (final).
- Hasil penelitian
a. Siklus penelitian
Hasil
penelitian PTK tidak hanya berisi data hasil observasi, melainkan justru proses
perbaikan yang dilakukan. Untuk itu siklus adalah cara yang tepat untuk
menyajikan hasil penelitian. Data hasil observasi tidak disajikan secara
terpisah melainkan dalam konteks siklus-siklus yang telah dilakukan.
b. Tabel, diagram dan grafik
Tabel,
diagram, dan grafik sangat baik digunakan untuk menyajikan data hasil
observasi. Gunanya agar refleksi dapat dilakukan lebih mudah. Sajian yang
cantik itu bisa menjadi bermanfaat manakala angka angkanya diatur sedemikain
rupa sehingga terkesan artificial.
Hasil yang begitu spektakuler, seringkali tidak disertai dengan “bagaimana”
proses untuk mencapainya, sehingga pembaca akan makin ragu.
- Simpulan dan saran
a. Simpulan
Kesimpulan tentu saja harus
menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis yang telah
dikemukakan. Pertanyaan penelitian, di samping menuntut jawaban yang berupa
hasil, juga menuntut prosesnya. Marilah kita lihat pertanyaan pertanyaan itu
sekali lagi. Salah satu karakter PTK adalah lebih memfokuskan pada tindakan (action) di samping hasilnya.
b. Saran
Karena PTK bersifat kontekstual,
pemberian saran kepada orang lain berdasarkan hasil penelitian tersebut
sebenarnya kurang bermanfaat. Deskripsi konteks penelitian secara rinci sudah
cukup untuk memberikan informasi bagi guru (guru mata pelajaran / guru
pembimbing) lain yang ingin meniru keberhasilan Anda. Saran seperti “Program PTK
ini perlu dilanjutkan dan diperluas untuk tahun-tahun mendatang,” juga kurang begitu
perlu, bahkan kurang relevan. Saran PTK diperlukan misalnya jika temuan
penelitian menyangkut sistem yang lebih luas, seperti menghendaki adanya
perubahan program pembelajaran atau program pelayanan bimbingan dan konseling
di sekolah. Dalam hal itu peneliti dapat menyarankan tentang program yang
ideal.
- Daftar pustaka
Daftar pustaka mencerminkan
penguasaan Anda atas konsep, kaidah dan teori yang Anda minati. Di samping itu,
sebagaimana telah disinggung sebelumnya, daftar pustaka mencerminkan keluasan
pengetahuan Anda atas penelitian-penelitian terbaru yang sedang ngetren. Selama
ini guru sering mencantumkan nama-nama ahli pendidikan, psikologi, dan
pembelajaran tetapi tidak disertai dengan daftar pustakannya. Buatlah daftar
pustaka secara cermat. Berikut ini disajikan contoh menulis daftar pustaka yang
berlaku secara universal.
Contoh menulis daftar pustaka:
Bobek, B., L., et al. 2005. Training Counselors to Use
Computer-Assisted Career Guidance Systems More Effectively: A Model Curriculum.
The Career Development Quarterly, 53,
363-371.
Hartono dan
Boy Soedarmadji. 2006. Psikologi
Konseling. Surabaya: University Press Unipa Surabaya.
Hartono.
2010. Bimbingan Karier Berbantuan
Komputer untuk Siswa SMA. Surabaya: University Press Unipa Surabaya.
UNDP. 2005. Statistics in the Human Development Report.
http://www.hdr.undp.org, diakses tanggal 31 Desember 2007 pukul 19.00
WIB.
Zunker, V.,
G. 2002. Career Counseling: Applied
Concepts of Life Planning, Sixth Edition. United Kingdom : Brooks/Cole.
REFERENSI
Ary, D.,
Jacobs, L., C., Razavieh, A. 2002. Introduction
to Research in Education, Sixth Edition. Australia :
Wadsworth .
Budi
Rahardjo. 2005. Panduan Menulis dan
Mempresentasikan Karya Ilmiah: Tesis, Tugas Akhir dan Makalah. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Corey, G.
2005. Theory and Practice of Counseling
& Psychotherapy, Seventh Edition. Australia : Brooks/Cole.
Gall, M., D., Gall, J., P., Borg, W., R. 2003. Educational
Research. An Introduction, Seventh Edition. New York :
Longman.
Thomas, R.,
M. 2003. Blending Qualitative and
Quantitative Research Methods in Thesis and Dissertations. California:
Corwin Press, Inc.
Tishman, S., Perkins, D., D., Jay, E. 1995. The
Thinking Classroom. Learning and Teaching in a Culture of Thinking. Boston :
Allyn and Bacon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar